Cuap-cuap penulis.
Cuap-cuap penulis.
Ada banyak bayang-bayang di dinding itu dan aku salah satunya. Merenung dalam ruang yang berisi mimpi-mimpi. Menekukan kaki, merengkuh bayang dan menyelam dalam diam. Mulutku hampir kehabisan kata-kata lagi. Dan tanganku hampir berhenti menulis lagi. Aku tidak ingin berhenti dari sesuatu hal yang sudah melekat dalam diriku. Dan untuk ini, tidak ada yang bisa melarang, menyuruh, atau bahkan memaksaku untuk tidak melakukan menulis lagi.
Dengan menulis, mimpiku semakin nyata. Walaupun kenyataannya berada di dunia mimpi. Pertahankan semua itu cukup sulit. Tapi aku bisa mengatasinya.
Hampir aku kehilangan imajinasiku lagi. Yang padahal dulu nyambung kemana-mana. Mulai dari Peri Payung, Pangeran Kepompong sampai penyihir Say Keledai. Aku tidak ingin melepaskan imajinasi ini untuk kesekian kalinya.
*
‘YAELAH SENDIRINYA KAYA GA PERNAH NYONTEK AJA.’ Tutur mereka mungkin begitu. Ya! Aku sendiri pernah menyontek, nanya sama teman jawaban ulangan yang benar. Tapi bukan MEMBUAT CONTEKAN DI KERTAS KECIL DEMI NILAI! Demi NILAI! Rasanya ingin ketawain mereka yang BELAJAR demi NILAI bukan demi MASA DEPAN dan KECERDASAN OTAK masing-masing. Betapa BODOHnya belajar hanya mengejar nilai tinggi. Ya walaupun memang NILAI terlihat lebih mengesankan dan berharga dibandingkan KEJUJURAN. Tapi sayangnya, di perusahaan atau di dunia luar nanti, bersaing bukan hanya NILAI tapi juga KECERDASAN yang murni. Bukan MENYONTEK.
‘KITA NYONTEK JUGA SEKALIAN BELAJAR KALI.’ Udah salah ngeyel pula. Lebih bangga dengan orang yang mencapai hasil minim tapi dengan kejujuran dibandingkan mencapai hasil maksimal dengan BERIBU-RIBU KEBOHONGAN. Remember, dunia luar ga butuh nilai. Kalau nilai di atas rata-rata tapi MORAL GAADA? BUAT APA BRO AND SIST. NILAI DIBANGGAKAN MORAL DIKOSONGKAN. Betapa lucunya penduduk dunia ini.
Dengan bermunculan paham sekularisme bukan membuat penduduk negeri ini maju pemikirannya malahan mengecil. Anak kecil macam ku bisa apa si, tau apa si tentang masalah yang ada di negeri ini. Penulis ini bukan kritik segala bidang permasalahan yang profesional. Memangnya, yang boleh berkutat urusan negeri ini orang dewasa saja?
‘YAUDAHLAH ANAK KECIL GAUSAH IKUT-IKUTAN MASALAH BEGINIAN. BELOM NGERTI.’
Dunia ini semakin keras. Semakin tua semakin keras penduduknya. Dimana pemikiran mecin masing-masing dilontarkan. Mencuitkan argumen yang ‘batu’ untuk mempertahankan pendapatnya sendiri yang padahal salah. Dimana semuanya bermakna terbalik. YANG SALAH dibenarkan. YANG BENAR disalahkan.
>>> SOON PART 2!
Komentar
Posting Komentar